Pengaruh Perubahan Iklim Terhadap Kenaikan Muka Air Laut

Januari 4, 2010 at 1:54 pm (Uncategorized)

Perubahan Iklim

Perubahan iklim global sebagai implikasi dari pemanasan global telah mengakibatkan ketidakstabilan atmosfer di lapisan bawah terutama yang dekat dengan permukaan bumi. Pemanasan global ini disebabkan oleh meningkatnya gas-gas rumah kaca yang dominan ditimbulkan oleh industri-industri. Gas-gas rumah kaca yang meningkat ini menimbulkan efek pemantulan dan penyerapan terhadap gelombang panjang yang bersifat panas (inframerah) yang diemisikan oleh permukaan bumi kembali ke permukaan bumi. Temperatur rata-rata global ini diproyeksikan akan terus meningkat sekitar 1.8-4.0oC di abad sekarang ini, dan bahkan menurut kajian lain dalam IPCC diproyeksikan berkisar antara 1.1- 6.4oC.

Perubahan temperatur atmosfer menyebabkan kondisi fisis atmosfer kian tak stabil dan menimbulkan terjadinya anomali-anomali terhadap parameter cuaca yang berlangsung lama. Dalam jangka panjang anomali-anomali parameter cuaca tersebut akan menyebabkan terjadinya perubahan iklim. Perubahan iklim merupakan sesuatu yang sulit untuk dihindari dan memberikan dampak terhadap berbagai segi kehidupan. Dampak ekstrem dari perubahan iklim terutama adalah terjadinya kenaikan temperatur serta pergeseran musim. Kenaikan temperatur menyebabkan es dan gletser di Kutub Utara dan Selatan mencair. Peristiwa ini menyebabkan terjadinya pemuaian massa air laut dan kenaikan permukaan air laut.

Naiknya Permukaan Air Laut

Kenaikan permukaan laut adalah fenomena naiknya permukaan laut yang disebabkan oleh banyak faktor yang kompleks. Permukaan laut telah mengalami kenaikan setinggi 120 meter sejak puncak zaman es 18.000 tahun yang lalu. Kenaikan tertinggi muka air laut terjadi sebelum 6.000 tahun yang lalu. Sejak 3.000 tahun yang lalu hingga awal abad ke-19, muka air laut hampir tetap hanya bertambah 0,1 hingga 0,2 mm/tahun; sejak tahun 1900, permukaan laut naik 1 hingga 3 mm/tahun; sejak tahun 1992 satelit altimetri TOPEX/Poseidon mengindikasikan laju kenaikan muka laut sebesar 3 mm/tahun. Perubahan ini bisa jadi merupakan pertanda awal dari efek pemanasan global terhadap kenaikan muka air laut. Pemanasan global diperkirakan memberikan pengaruh yang signifikan pada kenaikan muka air laut di abad ke-20 ini.

Menurut riset  yang ada, pemanasan global dari efek rumah kaca yang menyebabkan perubahan iklim dapat menaikan permukaan air laut hingga 5–200 cm untuk abad selanjutnya. Ketinggian air laut memang selalu berfluktuasi dengan perubahan dari temperatur global. Ketika zaman es dimana temperatur global sebesar 5 derajat Celsius lebih rendah dari sekarang, kebanyakan dari air laut terikat dalam gletser dan ketinggian permukaan air lautnya sekitar 100 meter lebih rendah dari sekarang. Tetapi, saat periode terakhir “interglacial” (100,000 tahun yang lalu), permukaan air laut lebih tinggi 6 meter  dari sekarang dan temperaturnya berkisar 1 derajat Celsius lebih hangat dari sekarang. Tren permukaan air laut global  telah diestimasi dengan cara mengkombinasikan tren–tren dari “tidal stations” di seluruh dunia. Rekor-rekor ini memperlihatkan bahwa selama abad terakhir ini, permukaan air laut di seluruh dunia telah naik hingga 10–25 cm yang sebagian besar diakibatkan oleh pemanasan global dari abad terakhir.
Kenaikan permukaan air laut akan membanjiri rawa-rawa dan dataran  rendah, mempercepat erosi dan memperburuk banjir di pesisir pantai, mengancam bangunan–bangunan di daerah pesisir, kehilangan kawasan wisata pantai yang indah dan juga meningkatkan salinitas (pencemaran kadar garam) di daerah sungai, teluk, dan  air di dalam tanah (aquifers).

Dampak Negatif Kenaikan Muka Air Laut

Dampak paling serius dari naiknya tinggi muka air laut ini adalah hilangnya pulau-pulau kecil. Diperkirakan dari 44 anggota SIDS, 14 negara kecil di antaranya terancam hilang akibat naiknya permukaan laut, antara lain beberapa negara pulau di Samudra Pasifik, yaitu Sychelles, Tuvalu, Kiribati, dan Palau, serta Maladewa di Samudra Hindia. Akibat pemanasan global, minimal 18 pulau di muka bumi ini telah tenggelam, antara lain tujuh pulau di Manus, sebuah provinsi di Papua Niugini. Kiribati, negara pulau yang berpenduduk 107.800 orang, sekitar 30 pulaunya saat ini sedang tenggelam, sedangkan tiga pulau karangnya telah tenggelam. Maladewa yang berpenduduk 369.000 jiwa, presidennya telah menyatakan akan merelokasikan seluruh negeri itu. Sementara itu, Vanuatu yang didiami 212.000 penduduk, sebagian telah diungsikan dan desa-desa di pesisir direlokasikan karena ancaman nyata itu, delegasi dari negara kepulauan tersebut serta Aljazair dan Tanzania sangat mendukung WOC dan akan hadir di Manado, mengingat negara tersebut terancam hilang dari muka bumi ini akibat perubahan iklim.

Di antara negara kepulauan di dunia, agaknya kerugian terbesar bakal dihadapi Indonesia, sebagai negara yang memiliki jumlah pulau terbanyak. Pada tahun 2030 potensi kehilangan pulaunya sudah mencapai sekitar 2.000 bila tidak ada program mitigasi dan adaptasi perubahan iklim, urai Indroyono, Sekretaris Menko Kesra yang juga mantan Kepala Badan Riset Kelautan dan Perikanan DKP. Saat ini belum diketahui berapa sesungguhnya jumlah pulau di Nusantara ini yang telah hilang karena dampak kenaikan permukaan laut. Namun, pengamatan Badan Koordinasi Survei dan Pemetaan Nasional (Bakosurtanal) menunjukkan penciutan daerah pantai sudah terlihat di pulau-pulau yang berada di Paparan Sunda dan Paparan Sahul, ungkap Aris Poniman, Deputi Sumber Dasar Sumber Daya Alam Bakosurtanal. Paparan Sunda meliputi pantai timur Pulau Sumatera, Kalimantan Barat, dan Kalimantan Selatan serta pantai utara Pulau Jawa. Adapun Paparan Sahul berada di sekitar wilayah Papua. Penjelasan Aris didasari pada pemantauan pasang surut yang dilakukan Bakosurtanal di berbagai wilayah pantai Nusantara sejak 30 tahun terakhir.

Mitigasi Kenaikan Muka Air Laut

Menghadapi ancaman hilangnya kawasan pantai dan pulau kecil yang kemungkinan akan terus berlanjut pada masa mendatang, Aris yang juga pengajar di IPB menyarankan penyusunan peta skala besar, yaitu 1:5.000 dan 1:1.000. ”Saat ini baru tiga kota besar, yaitu Jakarta, Semarang, dan Makassar, yang memiliki peta berskala tersebut,” ujarnya. Pada peta tampak detail wilayah pantai yang terbenam di tiga kota tersebut. Peta ini disusun Bakosurtanal bekerja sama dengan Japan International Cooperation Agency (JICA). Selain itu, pembuatan peta skala besar juga dilaksanakan untuk wilayah barat Sumatera dan selatan Jawa-Bali-Nusa Tenggara. Hal ini terkait dengan pembangunan Sistem Peringatan Dini Tsunami (TEWS). Sementara itu, untuk wilayah timur Sumatera dan wilayah lain yang tergolong rawan genangan air laut akibat pemanasan global peta yang ada masih berskala kecil, sekitar 1:25.000. ”Pembuatan peta genangan perlu menjadi prioritas agar setiap daerah dapat melakukan langkah antisipasi dan adaptasi pada wilayah yang bakal tergenang dalam 5 hingga 20 tahun mendatang,” ujarnya. Data spasial dan penginderaan jauh yang merekam dampak pemanasan global juga akan menjadi materi untuk pengambilan kebijakan di setiap instansi terkait pada waktu mendatang.

Daftar Referensi

h

http://www.independent.co.uk/environment/climate-change/sinking-without-trace-australias-climate-change-victims-821136.html

http://southasia.oneworld.net/article/view/160270/1

http://www.dw-world.de/dw/article/0,2144,2977544,00.html

http://armisusandi.com/articles/journal/Dampak%20Perubahan%20Iklim%20Terhadap%20Ketinggian%20Muka%20Laut

About these ads

16 Komentar

  1. mellanieamelia said,

    artikel nya baguus.
    pengen tanya, apakah ada dampak positif dari kenaikan muka laut itu sendiri?
    kemudian,dikutip dari bacaan diatas “Menurut riset yang ada, pemanasan global dari efek rumah kaca yang menyebabkan perubahan iklim dapat menaikan permukaan air laut hingga 5–200 cm untuk abad selanjutnya”,sampai saat ini sudah berapa cm kenaikan muka laut itu sendiri?
    makasiih.. :)
    comment k blog aq yah..

    • januariksan said,

      Terima kasih saudari mellani atas pertanyaan bagus nya,
      menurut info terbaru yang saya dapat, menyebutkan bahwa, kenaikan muk air laut sampai tahun 2009 sudah mencapai 1 cm per tahun.
      mudah-mudahan penjelasan saya dapat menambah pengetahuan mellani,
      terima kasih!!!

  2. Alfian said,

    assalamualaikum luuuur….
    ada yang ingin saya tanyakan…
    program mitigasi seperti apa yang seharusnya di lalkukan pemerintah agar pulau-pulau di indonesia itu tidak banyak yang menghilang??

    terimakasiiiih……

    • januariksan said,

      Menghadapi ancaman hilangnya kawasan pantai dan pulau kecil yang kemungkinan akan terus berlanjut pada masa mendatang, sebaiknya ada tindak nyata dari pemerintah dalam melakukan program mitigasi dengan penyusunan peta skala besar, yaitu 1:5.000 dan 1:1.000. ”Saat ini baru tiga kota besar, yaitu Jakarta, Semarang, dan Makassar, yang memiliki peta berskala tersebut,”. Pada peta tampak detail wilayah pantai yang terbenam di tiga kota tersebut. Peta ini disusun Bakosurtanal bekerja sama dengan Japan International Cooperation Agency (JICA). Selain itu, pembuatan peta skala besar juga dilaksanakan untuk wilayah barat Sumatera dan selatan Jawa-Bali-Nusa Tenggara. Hal ini terkait dengan pembangunan Sistem Peringatan Dini Tsunami (TEWS). Sementara itu, untuk wilayah timur Sumatera dan wilayah lain yang tergolong rawan genangan air laut akibat pemanasan global peta yang ada masih berskala kecil, sekitar 1:25.000. ”Pembuatan peta genangan perlu menjadi prioritas agar setiap daerah dapat melakukan langkah antisipasi dan adaptasi pada wilayah yang bakal tergenang dalam 5 hingga 20 tahun mendatang,”. Data spasial dan penginderaan jauh yang merekam dampak pemanasan global juga akan menjadi bahan untuk pengambilan kebijakan di setiap instansi terkait pada waktu mendatang.
      terimakasih saudara alfian atas pertanyaannya,mudah-mudahan penjelasan dari saya dapat menambah pemahaman saudara

  3. furkonable said,

    terima kasih atas artikel yang menarik ini.
    info terbaru yang saya dapat, menyebutkan bahwa, kenaikan muk air laut sampai tahun 2009 sudah mencapai 1 cm per tahun.
    menurutAnda, langkah apa yang harus dilakukan untuk menanggulangi hal tersebut?
    terima kasih.

    • januariksan said,

      Terimakasih sodara furkon atas pertanyaannya..saya mengutip dari sebuah artikel menurut Aris yang juga pengajar di IPB menyarankan penyusunan peta skala besar, yaitu 1:5.000 dan 1:1.000. ”Saat ini baru tiga kota besar, yaitu Jakarta, Semarang, dan Makassar, yang memiliki peta berskala tersebut,” ujarnya. Pada peta tampak detail wilayah pantai yang terbenam di tiga kota tersebut. Peta ini disusun Bakosurtanal bekerja sama dengan Japan International Cooperation Agency (JICA). Selain itu, pembuatan peta skala besar juga dilaksanakan untuk wilayah barat Sumatera dan selatan Jawa-Bali-Nusa Tenggara. Hal ini terkait dengan pembangunan Sistem Peringatan Dini Tsunami (TEWS). Sementara itu, untuk wilayah timur Sumatera dan wilayah lain yang tergolong rawan genangan air laut akibat pemanasan global peta yang ada masih berskala kecil, sekitar 1:25.000. ”Pembuatan peta genangan perlu menjadi prioritas agar setiap daerah dapat melakukan langkah antisipasi dan adaptasi pada wilayah yang bakal tergenang dalam 5 hingga 20 tahun mendatang,” ujarnya. Data spasial dan penginderaan jauh yang merekam dampak pemanasan global juga akan menjadi materi untuk pengambilan kebijakan di setiap instansi terkait pada waktu mendatang.
      salah satu penanggulangan atau mitigasinya seperti yang ada pada artilel yang saya kutip , mudah-mudahan penjelasan saya dapat menambah pemahaman anda,
      terimakasih!!!

  4. blueseafer said,

    artikel nya cukup menarik,,ada sedikit pertanyaan.
    apakah menurut anda pribadi mitigasi terhadap dampak negatif tersebut sudah sesuai dan efektif???terimakasih.

    • januariksan said,

      Trimakasih atas pertanyaan bagusnya…
      Menurut saya sudah cukup baik efektif atau tidaknya tergantung implementasi di lapangan..kita-kita sebagai genersi muda sudah sepatutnya membuka mata akan alam disekitar kita dan berusaha menanggulangi efek-efek yang terjadi dari akibat ulah manusia itu sendiri dampaknya jangka panjang dan dapat membahayakan anak cucu lita di masa depan,
      Terima kasih saudara Dwiko,mudah-mudahan penjelasan saya bisa dimengerti dan dapat memuaskan anda

  5. PMAN said,

    artikel yang sangat menarik dan menambah wawasan saya …
    mau sedikit bertanya, bagaiman menurut anda dengan keberadaan pulau terluar Indonesia yang merupakan batas NKRI apabila pulau itu menghilang akibat naiknya permukaan laut???upaya apa saja yang harus dilakukan pemerintah untuk memitigasinya?
    terima kasih

  6. FaisaL said,

    ok,fren..
    paten jg tuh artikel nya..

    cuma yang ingin saya tanyakan adalah pada saat ini berapa suhu pada permukaan es di kutub yang mengakibatkan mencair nya es tsb. ?

    Terima kasih.

    • januariksan said,

      Trima kasih atas pertanyaannya,
      Saya mencoba untuk menjawab pada dasar nya es itu mencair dengan suhu diatas 0derajat celcius,.Terima kasih.

    • januariksan said,

      Trima kasih atas pertanyaannya,
      Saya mencoba untuk menjawab pada dasar nya es itu mencair dengan suhu diatas 0derajat celcius,.Terima kasih.

  7. regivigavialli said,

    nice..

    mau nanya dikit ah.. hehe
    san,, kan naiknya permukaan air laut disebabkan karena mencairnya es yang ada di kutub.
    nah, bagaimana apabila es yang ada di kutub habis mencair, apakah dunia akan tenggelam atau bagaimana?

    thx…

    • januariksan said,

      Pertanyaan bagus banget..saya akan mencoba meng ilustrasikan sebuah gelas,perhatikan gelas, jika terdapat air dan es. Ada sebagian dari es tersebut yang menunjol keluar dari gelas.
      Apa yang terjadi jika es tersebut mencair?

      Sekarang saya akan membuat hipotesa (hypothesis: tebakan sains), perhatikan untuk melihat apa yang terjadi.
      Pastikan gelas tersbut tidak terganggu . Ketika es meleleh, apakah air akan meluber?

      Ternyata tidak. Bahkan ketika semua es meleleh, gelas tetap sama penuhnya seperti waktu anda memulai.
      Ketika air membeku, ia akan memuai. Beratnya tetap sama, tapi memerlukan ruang yang lebih besar.
      Hal ini berarti ia akan mengapung ketika dimasukkan ke dalam air.
      Ketika mengapung, bagian, yang berada di dalam air, mengambil tempat yang persis sama seperti jumlah air yang membeku tersebut.
      Ketika meleleh, ia akan mengambil bagian itu kembali, sehingga air di gelas tidak luber.

      Kembali pada pada pertanyaan anda ap yang terjadi jika es di kedua kutub meleleh apakah dunia akan tenggelam, ada sebuah perbedaan besar antara es di kedua kutub.
      Es pada Kutub Utara adalah es sepenuhnya yang mengapung di air. Jika anda bisa hanya melelehkan es di Kutub Utara, maka tinggi permukaan laut akan tetap sama.

      Es di Kutub Selatan tidak mengapung di air, melainkan bertengger di atas sebuah daratan benua yang bernama Antarctica.
      Jika meleleh, maka air di permukaan laut akan naik dan dalam jangka waktu mendatang bisa saja dunia ini akan tenggelam,.
      begiru penjelasan dari saya mdh2an bza menambah pemahaman anda

  8. jelajahlaut said,

    pertanyaan saya simpel aja..

    jika semua es di bumi mencair, kira2 berapa meter kenaikan muka air laut ?

    • januariksan said,

      Terima kasih atas pertanyaannya kenaikan muka air laut menurut yang saya kutip sampai tahun 2009 sudah mencapai 1 cm per tahun. dan pada 2030 diperkirakan akan naik 32cm .. mudah-mudahan penjelasannya bisa memuaskan rasa penasaran anda saudara sena wiratama

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d blogger menyukai ini: